Selasa, 01 Desember 2015

Sejarah Berdirinya Panti Asuhan Wisma Kasih Metro

Berdirinya Panti Asuhan Wisma Kasih Metro tidak terlepas dari keinginan dr Paran Bagionoto, SpB dengan istrinya Ibu Irmina Andini yang sudah lama berdoa kepada Tuhan untuk memiliki Panti Asuhan yang menampung anak-anak kurang mampu agar memiliki masa depan yang lebih baik. Keinginan ini disampaikan kepada Mr Lee, seorang  dari Korea yang menjadi teman dr Paran dalam pelayanan, dia  terlebih dulu berkecimpung mengurusi Panti Asuhan Kasih Sejahtera di Bandar lampung. Kemudian bersepakatlah mereka untuk mendirikan Panti Asuhan di Metro dengan meminta Pdt. Kardinah IA untuk ambil bagian mendampingi anak-anak yang di asuh di Panti nantinya. Sambil berjalan, Ibu Irmina, mencari rumah yang disewakan, menyiapkan peralatan makan, peralatan dapur, kasur, berita lisan atau pun via SMS dikabarkan ke desa-desa supaya mereka mengirimkan anak-anak dengan criteria dari keluarga tidak mampu dan ingin melanjutkan sekolah. Kami membatasi maksimal 30 anak, karena keterbatasan tempat.

Pada tanggal  8 Juli 2007, berkumpullah anak-anak di Panti Asuhan Wisma Kasih Metro, yang menyewa tempat di Rumah Keluarga Bp. Wakindri yang kosong, dengan pekarangan yang luas dan agak jauh dari tetangga. Wisma dibuka dengan doa bersama anak-anak panti.  Kebaktian bersama dilakukan di Panti setiap pagi jam 5 dan jam 18.00, yang memimpin ibadah anak-anak sendiri sesuai dengan jadwalnya. Selain itu, setiap anak juga di jadwal untuk bersih-bersih rumah, kamar mandi dan pekarangan serta memasak walau ada bude Arsad yang membantu memasak dan Pakde Andreas yang menjadi tukang kebun. Pkl. 6.30, mereka berangkat ke sekolah, sekolahnya di SMPK dan SMAK. Ada sepeda onthel yang dikirimkan oleh jemaat-jemaat sekitar Metro untuk mereka. Semua biaya makan, pendidikan, alat tulis, sepatu, seragam, disiapkan oleh Panti karena ibu Irmina  tidak ingin membebani orangtua anak-anak.

Kami hidup dalam kesederhanaan, pada tahun pertama, seluruh biaya makan panti dipersembahkan oleh kelg dr Paran dan Ibu Irmina, jumlahnya tidak sedikit karena panti Asuhan belum dikenal oleh gereja-gereja di sekitarnya. Biaya sewa rumah dan pendidikan anak-anak dibantu dari Mr Lee dan gereja Korea. Seiring dengan berjalannya waktu, gereja-gereja sekitar Tuhan kirim untuk mencukupkan setiap kebutuhan anak-anak.

Hal yang tidak terlupakan di tahun pertama pembukaan Panti Asuhan adalah peristiwa kecelakaan sepeda yang menimpa salah satu anak, namanya Angga. Hari itu ada MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolah SMAK. Anak-anak SMA, berangkat jam 5 pagi dari rumah dengan bersepeda beramai-ramai, tetapi Angga kembali karena kartu namanya ketinggalan. Naasnya, dia jatuh dari sepedanya, mungkin kepalanya terbentur, dia dibawa ke IGD dalam kondisi tidak sadar, dokter melakukan bedah kepala, tetapi Tuhan memanggilnya kembali. Kami semua tertunduk dalam duka, larut di pemakaman Angga. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 17 Juli 2007.

Hal lain yang pernah terjadi di awal berdirinya panti, anak-anak sering kesurupan. Anak-anak sempat merasa takut tetapi pada akhirnya iman mereka semakin dikuatkan melalui pengalaman-pengalaman yang ada sebab mereka tahu Nama Yesus di atas sela nama.Anak-anak tidak patah semangat. Mereka hidup rukun dan saling menopang. Banyak diantara mereka yang berprestasi sehingga melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Tanpa terasa 5 tahun sudah panti berjalan. Tuhan cukupkan setiap kebutuhan anak-anak sesuai janjiNya, seperti fajar pagi yang tidak pernah terlambat terbit demikian Tuhan kirimkan berkatNya untuk mencukupkan kebutuhan anak-anak tepat pada waktunya.



Kami ternyata memerlukan wadah yang lebih jelas karena pelayanan kemudian berkembang tidak hanya mengenai panti, tapi juga perpustakaan dan pelayanan kesehatan. Sesuai dengan aturan hukum yang berlaku akhirnya kami mendaftarkan panti secara resmi kepada pemerintah dengan nama Yayasan Sakai Sambayan Timur Barat (YSSTB), mendapat izin operasional dari pemerintah pada tanggal 10 Februari 2010. Bergerak di bidang pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan untuk masyarakat.-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar