Berdirinya
Panti Asuhan Wisma Kasih Metro tidak terlepas dari keinginan dr Paran
Bagionoto, SpB dengan istrinya Ibu Irmina Andini yang sudah lama berdoa kepada
Tuhan untuk memiliki Panti Asuhan yang menampung anak-anak kurang mampu agar
memiliki masa depan yang lebih baik. Keinginan ini disampaikan kepada Mr Lee,
seorang dari Korea yang menjadi teman dr
Paran dalam pelayanan, dia terlebih dulu
berkecimpung mengurusi Panti Asuhan Kasih Sejahtera di Bandar lampung. Kemudian
bersepakatlah mereka untuk mendirikan Panti Asuhan di Metro dengan meminta Pdt.
Kardinah IA untuk ambil bagian mendampingi anak-anak yang di asuh di Panti
nantinya. Sambil berjalan, Ibu Irmina, mencari rumah yang disewakan, menyiapkan
peralatan makan, peralatan dapur, kasur, berita lisan atau pun via SMS
dikabarkan ke desa-desa supaya mereka mengirimkan anak-anak dengan criteria
dari keluarga tidak mampu dan ingin melanjutkan sekolah. Kami membatasi
maksimal 30 anak, karena keterbatasan tempat.
Pada
tanggal 8 Juli 2007, berkumpullah
anak-anak di Panti Asuhan Wisma Kasih Metro, yang menyewa tempat di Rumah
Keluarga Bp. Wakindri yang kosong, dengan pekarangan yang luas dan agak jauh
dari tetangga. Wisma dibuka dengan doa bersama anak-anak panti. Kebaktian bersama dilakukan di Panti setiap
pagi jam 5 dan jam 18.00, yang memimpin ibadah anak-anak sendiri sesuai dengan
jadwalnya. Selain itu, setiap anak juga di jadwal untuk bersih-bersih rumah,
kamar mandi dan pekarangan serta memasak walau ada bude Arsad yang membantu
memasak dan Pakde Andreas yang menjadi tukang kebun. Pkl. 6.30, mereka
berangkat ke sekolah, sekolahnya di SMPK dan SMAK. Ada sepeda onthel yang
dikirimkan oleh jemaat-jemaat sekitar Metro untuk mereka. Semua biaya makan,
pendidikan, alat tulis, sepatu, seragam, disiapkan oleh Panti karena ibu
Irmina tidak ingin membebani orangtua
anak-anak.
Kami
hidup dalam kesederhanaan, pada tahun pertama, seluruh biaya makan panti
dipersembahkan oleh kelg dr Paran dan Ibu Irmina, jumlahnya tidak sedikit
karena panti Asuhan belum dikenal oleh gereja-gereja di sekitarnya. Biaya sewa
rumah dan pendidikan anak-anak dibantu dari Mr Lee dan gereja Korea. Seiring
dengan berjalannya waktu, gereja-gereja sekitar Tuhan kirim untuk mencukupkan
setiap kebutuhan anak-anak.
Hal
yang tidak terlupakan di tahun pertama pembukaan Panti Asuhan adalah peristiwa
kecelakaan sepeda yang menimpa salah satu anak, namanya Angga. Hari itu ada MOS
(Masa Orientasi Siswa) di sekolah SMAK. Anak-anak SMA, berangkat jam 5 pagi
dari rumah dengan bersepeda beramai-ramai, tetapi Angga kembali karena kartu
namanya ketinggalan. Naasnya, dia jatuh dari sepedanya, mungkin kepalanya
terbentur, dia dibawa ke IGD dalam kondisi tidak sadar, dokter melakukan bedah
kepala, tetapi Tuhan memanggilnya kembali. Kami semua tertunduk dalam duka,
larut di pemakaman Angga. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 17 Juli 2007.
Hal
lain yang pernah terjadi di awal berdirinya panti, anak-anak sering kesurupan.
Anak-anak sempat merasa takut tetapi pada akhirnya iman mereka semakin
dikuatkan melalui pengalaman-pengalaman yang ada sebab mereka tahu Nama Yesus
di atas sela nama.Anak-anak tidak patah semangat. Mereka hidup rukun dan saling
menopang. Banyak diantara mereka yang berprestasi sehingga melanjutkan ke jenjang
perguruan tinggi. Tanpa terasa 5 tahun sudah panti berjalan. Tuhan cukupkan
setiap kebutuhan anak-anak sesuai janjiNya, seperti fajar pagi yang tidak
pernah terlambat terbit demikian Tuhan kirimkan berkatNya untuk mencukupkan
kebutuhan anak-anak tepat pada waktunya.
Kami
ternyata memerlukan wadah yang lebih jelas karena pelayanan kemudian berkembang
tidak hanya mengenai panti, tapi juga perpustakaan dan pelayanan kesehatan.
Sesuai dengan aturan hukum yang berlaku akhirnya kami mendaftarkan panti secara
resmi kepada pemerintah dengan nama Yayasan Sakai Sambayan Timur Barat (YSSTB),
mendapat izin operasional dari pemerintah pada tanggal 10 Februari 2010.
Bergerak di bidang pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan untuk masyarakat.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar